Jabat Tangan dan Santap Bersama Hangatkan Idul Adha di Kampung Sara: Simbol Toleransi Sejati Teluk Bintuni

PUKA NEWS, TELUK BINTUNI – Suasana haru dan penuh kebersamaan menyelimuti Masjid Nurul Yaqin Sara di Distrik Kaitaro setelah pelaksanaan Salat Idul Adha. Umat Muslim dan Kristiani berkumpul dalam sebuah acara jabat tangan dan santap bersama yang menjadi bukti nyata kerukunan antarumat beragama di Kampung Sara, Jumat (7/6).

Acara yang dipimpin langsung oleh Ustadz M. Subuh Refideso, salah seorang tokoh muda setempat, menjadi momen berharga untuk mempererat tali silaturahmi. Dalam sambutannya, Ustadz Subuh Refideso secara khusus mengingatkan generasi muda tentang pentingnya melestarikan kebiasaan kebersamaan antara dua agama besar ini.

“Kebiasaan kebersamaan dua agama ini jangan pernah kitong lupakan, karena hal ini menjadi luar biasa di mata orang lain dan hal ini kemungkinan besar tidak akan terjadi di tempat lain,” tegas Ustadz Subuh, menyoroti keunikan toleransi di Kampung Sara.

Lebih lanjut, Ustadz Subuh Refideso bahkan menyatakan bahwa makna kata toleransi di Indonesia sesungguhnya hanya ada di Papua, khususnya di Kabupaten Teluk Bintuni, Distrik Kaitaro. Pernyataan ini bukan tanpa dasar, mengingat tradisi kerukunan yang telah berakar kuat di wilayah tersebut.

Dalam sesi “serba-serbi” yang penuh nostalgia, Ustadz Subuh Refideso menceritakan kisah toleransi di masa lampau. Ia mengenang masa ketika belum ada kendaraan laut, di mana para orang tua dahulu biasa saling bersilaturahmi dengan mendayung perahu untuk merayakan momen-momen istimewa seperti Idul Adha. Kisah ini menjadi pengingat betapa berharganya tradisi kebersamaan yang harus terus dilestarikan dan jangan sampai hilang ditelan zaman.

Acara jabat tangan dan makan bersama ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga sebuah pesan kuat tentang indahnya persatuan dan persaudaraan. Kampung Sara, Distrik Kaitaro, kembali menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk membangun sebuah komunitas yang harmonis dan penuh cinta kasih.

Reporter : Jefri Bernardus 

Kaperwil Papua Barat 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *