Opini  

Dua Dekade Damai, Aceh Makin Terarah di Bawah Komando Mualem dan Dek Fad

Oleh: Nyak Dhien

Aceh bukan lagi tanah luka, melainkan tanah harapan. Dua dekade pasca penandatanganan MoU Helsinki, kita menyaksikan bagaimana perdamaian bukan hanya dijaga, tapi juga dirawat dengan langkah nyata. Di bawah komando Mualem dan dukungan strategis Dek Fad, arah perjuangan Aceh pascakonflik semakin jelas: menyejahterakan rakyat, memulihkan korban, dan menguatkan rekonsiliasi.

Salah satu pilar penting dari arah baru ini adalah penguatan peran Badan Reintegrasi Aceh (BRA). Di bawah kepemimpinan Jamaluddin, S.H., M.Kn., BRA bergerak lebih terarah, lebih menyentuh, dan lebih berani menjawab kebutuhan riil di lapangan terutama mereka yang selama ini hidup di garis luka sejarah: mantan kombatan GAM, tapol/napol, serta masyarakat korban konflik.

BRA tidak sekadar hadir sebagai lembaga administratif, melainkan sebagai garda terdepan dalam membumikan makna damai: melalui program reintegrasi sosial, pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, hingga bantuan rumah layak huni. Semua itu bukan slogan, melainkan langkah konkrit menuju perdamaian yang berakar dan berumur panjang.

sebagai salah satu instrumen penting dalam implementasi butir-butir perdamaian, terus memperkuat perannya dalam proses reintegrasi sosial dan pemberdayaan ekonomi bagi mantan kombatan GAM, tapol/napol, dan masyarakat korban konflik. Di bawah kepemimpinan Jamaluddin, S.H., M.Kn., BRA fokus pada program-program pemulihan yang inklusif dan berkelanjutan.

Salah satu potret hidup dari proses itu adalah Nyak Dhin Gajah, nama perang yang diberikan padanya oleh pasukan GAM. Nama aslinya, Nasruddin, adalah seorang mantan kombatan Wilayah IV Pidie. Ia adalah satu dari sekian banyak sosok yang pertama kali ditangkap sebagai “tawanan perang” oleh aparat keamanan Indonesia di masa darurat militer.

Dipenjara tiga tahun di Lapas Benteng Sigli, hidup Nyak Dhin tidak surut oleh rasa dendam. Justru di balik jeruji, ia tumbuh sebagai pribadi yang bertanggung jawab—menjadi juru masak bagi para tahanan lain, sebuah peran kecil tapi bermakna. Setelah tsunami 2004 meluluhlantakkan lapas tempat ia ditahan, ia bersama rekan-rekannya dipindahkan ke Rutan Kota Bakti.

Tanggal 15 Agustus 2005, tepat malam peringatan damai GAM-RI, mereka di jemput oleh NGO IOM dengan bekal uang saku dan harapan untuk kembali ke pangkuan keluarga. Kini, Nyak Dhin bukan lagi tahanan atau kombatan ia adalah saksi hidup dari arti kata “rekonsiliasi”.

Cerita seperti Nyak Dhin adalah bukti bahwa damai bukan sekadar dokumen, tetapi proses panjang yang menuntut kehadiran negara. Dan hari ini, lewat BRA yang terus bergerak, kita melihat bahwa negara hadir dalam wajah Mualem yang berpengalaman, Dek Fad yang progresif, dan Jamaluddin yang eksekutif.

Aceh makin terarah. Damai makin berakar. Yang tersisa kini adalah komitmen kita bersama agar perjuangan panjang ini tidak sia-sia. Bahwa luka bisa sembuh, dan bahwa sejarah tidak harus terus diulang.

Exit mobile version