Opini  

Di Balik Huruf dan Angka, Ada Masa Depan

Oleh: Thomas Edison Kabu, S.Pd., Gr., CTMM., C.Ed., C.BE.

Guru, Praktisi Pendidikan, dan Pegiat Literasi

Saya percaya bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh, bermimpi, dan meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. Namun, setelah menjalani peran sebagai guru, praktisi pendidikan, dan pegiat literasi di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, saya semakin memahami bahwa kesempatan tersebut tidak selalu hadir bersama fasilitas yang memadai.

Ada anak-anak yang harus belajar di tengah berbagai keterbatasan. Ada sekolah yang terus berjuang meningkatkan mutu pembelajaran. Ada pula keluarga yang menaruh harapan besar bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan anak-anak mereka.

Pengalaman tersebut menyadarkan saya bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar tentang berapa banyak anak yang bersekolah atau seberapa tinggi nilai yang mereka peroleh. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah anak-anak benar-benar belajar, memahami apa yang dipelajari, mampu berpikir kritis, serta menggunakan pengetahuannya untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Sebagai guru matematika, saya sering menemukan bahwa kesulitan peserta didik tidak selalu terletak pada rumus atau operasi hitung. Sebagian anak masih kesulitan memahami maksud soal, menemukan informasi penting, menjelaskan alasan, serta menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan sehari-hari.

Dari pengalaman tersebut, saya melihat bahwa kemampuan literasi dan numerasi merupakan fondasi penting bagi keberhasilan belajar.

Anak yang belum terbiasa membaca dengan pemahaman akan kesulitan menyelesaikan soal cerita. Anak yang tidak terlatih mengajukan pertanyaan cenderung menerima informasi begitu saja tanpa memeriksa kebenarannya. Sementara itu, anak yang terbiasa menghafal jawaban belum tentu mampu menghadapi persoalan baru yang membutuhkan kemampuan penalaran.

Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dari pembelajaran yang benar-benar memberikan ruang bagi peserta didik untuk berpikir, bertanya, membaca, menulis, berdiskusi, dan menemukan jawaban.

Guru tidak cukup hanya menyampaikan materi dan menuntaskan kurikulum. Lebih dari itu, guru harus memastikan bahwa pengetahuan yang diajarkan benar-benar dipahami oleh peserta didik dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tentu, perubahan tersebut bukan tanggung jawab guru seorang diri. Sekolah membutuhkan kepemimpinan yang berpihak pada pembelajaran, dukungan orang tua, kebijakan pemerintah yang konsisten, serta lingkungan masyarakat yang menghargai pengetahuan.

Pendidikan yang berkualitas lahir dari kerja bersama, bukan dari tuntutan yang hanya dibebankan kepada satu pihak.

Literasi Tidak Boleh Berhenti di Ruang Kelas

Keterlibatan saya dalam gerakan literasi melalui Rumah Literasi Thomas Edison dan TBM Cendekiawan Soe semakin memperluas cara pandang saya terhadap dunia pendidikan.

Saya bertemu dengan anak-anak yang memiliki rasa ingin tahu, keberanian untuk bermimpi, dan semangat belajar. Namun, mereka tidak selalu memiliki akses yang cukup terhadap buku maupun pendampingan belajar.

Dari pengalaman itu, saya semakin yakin bahwa literasi tidak boleh menjadi kegiatan seremonial yang hanya ramai ketika ada peringatan tertentu. Literasi harus tumbuh menjadi kebiasaan sehari-hari: anak membaca buku, menceritakan kembali isinya, menuliskan pengalaman, mengajukan pertanyaan, dan berani menyampaikan gagasan.

Di ruang-ruang belajar sederhana, saya melihat bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan gedung megah atau teknologi canggih. Buku yang dibaca bersama, percakapan yang membangkitkan rasa ingin tahu, serta pendampingan yang dilakukan secara konsisten dapat membuka jalan bagi tumbuhnya kepercayaan diri anak.

Rumah literasi juga mengajarkan kepada saya bahwa anak-anak tidak seharusnya kehilangan kesempatan hanya karena tinggal jauh dari pusat kota. Mereka berhak memperoleh pengalaman belajar yang bermakna, mengenal pengetahuan baru, dan mengembangkan potensi diri.

Keterbatasan geografis dan ekonomi seharusnya menjadi alasan untuk memperkuat pelayanan pendidikan, bukan pembenaran untuk membiarkan kesenjangan terus berlangsung.

Saya tidak ingin menempatkan literasi sebagai kegiatan yang berdiri sendiri dan terpisah dari pembelajaran di sekolah. Sebaliknya, literasi perlu menjadi napas dalam setiap mata pelajaran.

Dalam matematika, peserta didik belajar membaca data, menafsirkan informasi, menyusun argumen, dan memecahkan masalah. Dalam mata pelajaran lainnya, mereka belajar memahami bacaan, menguji informasi, serta mengungkapkan gagasan secara terstruktur.

Dengan demikian, literasi bukan hanya urusan guru bahasa atau pengelola taman bacaan. Literasi merupakan tanggung jawab bersama seluruh pendidik dan masyarakat.

Dari Keterbatasan Menuju Gerakan Perubahan

Saya menyadari bahwa tantangan pendidikan di TTS tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu program atau satu gerakan literasi. Diperlukan langkah yang terarah, berkelanjutan, dan sesuai dengan kondisi masyarakat setempat.

Sekolah perlu membangun budaya membaca yang nyata, bukan sekadar menyediakan sudut baca. Guru perlu mendapatkan pendampingan untuk merancang pembelajaran yang mendorong penalaran, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.

Pemerintah juga perlu memastikan bahwa program peningkatan mutu pendidikan menjangkau sekolah-sekolah yang masih menghadapi berbagai keterbatasan. Sementara itu, orang tua dan masyarakat perlu dilibatkan agar proses belajar tidak berhenti ketika anak meninggalkan lingkungan sekolah.

Kita juga perlu berani mengevaluasi keberhasilan pendidikan secara lebih mendalam. Nilai ujian dan prestasi akademik tetap penting, tetapi keduanya belum cukup untuk menggambarkan kualitas pembelajaran secara utuh.

Kita perlu melihat apakah kemampuan membaca anak berkembang, apakah mereka mampu memahami informasi, apakah kemampuan penalarannya semakin baik, dan apakah mereka memiliki keberanian untuk belajar secara mandiri.

Bagi saya, prestasi seorang anak memang patut dirayakan. Namun, keberhasilan pendidikan yang lebih besar adalah ketika semakin banyak anak memperoleh kesempatan untuk berkembang, termasuk mereka yang selama ini kurang mendapatkan perhatian.

Pendidikan di daerah seperti TTS membutuhkan pendekatan yang berpijak pada kenyataan setempat. Budaya lokal, kehidupan pertanian, pasar tradisional, tenun ikat, dan berbagai pengalaman sehari-hari masyarakat dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan kehidupan anak.

Pengetahuan tidak harus selalu diperkenalkan melalui contoh-contoh yang jauh dari keseharian mereka. Justru, pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika anak mampu menemukan hubungan antara apa yang dipelajari dan apa yang mereka alami.

Dengan demikian, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang baik atau fasilitas yang lengkap, tetapi juga oleh kesungguhan kita dalam membangun ekosistem belajar yang hidup.

Sekolah, keluarga, pemerintah, komunitas literasi, dan masyarakat harus bergerak ke arah yang sama.

Saya percaya bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Satu anak yang kembali mencintai buku, satu guru yang memperbaiki cara mengajar, satu sekolah yang menghidupkan budaya membaca, dan satu komunitas yang menyediakan ruang belajar dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas.

Pendidikan berkualitas bukan sekadar cita-cita yang tertulis dalam dokumen kebijakan. Pendidikan berkualitas harus benar-benar dirasakan oleh anak-anak melalui pengalaman belajar mereka setiap hari.

Memperjuangkan Literasi, Memperjuangkan Masa Depan

Bagi saya, memperjuangkan literasi berarti memperjuangkan kesempatan.

Sebab, ketika seorang anak belajar membaca dengan pemahaman, berpikir dengan jernih, dan berani menyampaikan gagasan, kita tidak hanya membantunya menjawab soal di sekolah. Kita sedang membekalinya untuk memahami dunia, mengambil keputusan, dan membangun masa depannya sendiri.

Perubahan pendidikan mungkin tidak dapat diselesaikan hari ini. Namun, selama masih ada anak yang ingin belajar dan masih ada orang dewasa yang bersedia mendampinginya, harapan itu akan tetap hidup.

Dari ruang-ruang kelas dan rumah-rumah literasi di Timor Tengah Selatan, kita dapat memulai langkah kecil menuju pendidikan yang lebih bermutu, adil, dan memanusiakan setiap anak.

Sebab, di balik setiap huruf yang dibaca dan setiap angka yang dipahami, ada harapan, kesempatan, dan masa depan yang sedang dibangun.

Exit mobile version