Pematang Siantar, PukaNews.com — Gelombang operasi pemberantasan narkoba terus bergulir di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Jumat lalu, Satuan Reserse Narkoba (Satres Narkoba) Polresta Pematang Siantar menggelar razia gabungan bersama TNI, BNN, dan Lurah Kampung Melayu. Sasarannya adalah kawasan Bangsal Kampung Melayu yang dikenal sebagai salah satu titik rawan peredaran narkoba.
Dari operasi yang digelar berdasarkan perintah langsung Direktur Reserse Narkoba Polda Sumatera Utara ini, petugas berhasil mengamankan dua tersangka. Keduanya ditangkap di area parkir Bangsal saat hendak meninggalkan lokasi, diduga usai bertransaksi narkoba jenis sabu-sabu.

“Mereka terlihat mencurigakan, jadi kami lakukan penggeledahan,” ujar salah seorang petugas yang enggan disebutkan namanya. Benar saja, dari penggeledahan tersebut ditemukan satu paket sabu-sabu yang diduga baru saja dibeli dari seorang pengedar.
Sayangnya, upaya petugas untuk mengorek informasi lebih lanjut dari kedua tersangka belum membuahkan hasil yang signifikan. “Kami masih melakukan investigasi dan interogasi mendalam,” ungkap Kasat Narkoba Polresta Pematang Siantar, Jhoni Pasaribu, saat dikonfirmasi. Ia juga berjanji akan segera merilis identitas kedua tersangka kepada publik.
Sementara itu, warga sekitar Bangsal Kampung Melayu mengungkapkan kecurigaan mereka akan adanya kebocoran informasi terkait razia tersebut. “Hasilnya hanya dua orang, padahal biasanya lebih ramai. Sepertinya operasi ini sudah bocor,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Dugaan kebocoran informasi ini tentu menjadi catatan penting bagi aparat penegak hukum. Keberhasilan operasi pemberantasan narkoba sangat bergantung pada kerahasiaan dan ketepatan eksekusi. Jika informasi mengenai razia sudah bocor sebelumnya, para pelaku tentu akan lebih mudah menghindar dan menghilangkan barang bukti.
Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pengamanan informasi terkait operasi narkoba. Selain itu, perlu juga ditingkatkan koordinasi antara berbagai instansi yang terlibat dalam operasi, agar tidak ada celah bagi informasi untuk bocor.
(S. Hadi Purba)













