Cerpen  

Kucing dan Tikus

Ilustrasi Kucing dan Tikus ketika melihat makanan di Meja

Karya : Imran Alwi. Fuad

Di suatu sore yang tenang, ketika cahaya matahari mulai merambat malas di sela-sela jendela dapur, aku menemukan pemandangan yang agak tak biasa. Seekor kucing belang duduk diam di pojok rak, matanya menatap tajam pada sebongkah ikan asin yang tergeletak menggoda di atas piring. Tak seperti biasanya ia bersembunyi begitu tenang, seperti pencuri yang sedang menunggu waktu tepat untuk mencuri.

Aku mendekat, mencoba memahami maksud dari kelakuannya. “Hei, kau mau jadi penjahat?” tanyaku dengan nada bercanda.

Kucing itu menoleh, seolah mengerti. Matanya sayu, dan ia mengeong pelan, “Aku cuma lapar berat.”

Aku tercengang. Tidak karena ia bisa menjawab — tentu saja itu hanya imajinasi liar di kepalaku — tapi karena jawabannya mengandung kebenaran yang sederhana sekaligus dalam. Lapar bisa membuat siapa pun berubah. Bahkan seekor kucing yang biasanya manja bisa menjadi pencuri ulung saat perutnya keroncongan.

Tiba-tiba aku teringat akan kisah lain — tentang tikus. Dulu, tikus-tikus di rumah ini juga pernah membuat kekacauan demi sisa remah roti. Mereka bukan jahat, mungkin mereka juga cuma lapar.

Malam itu, sambil memberinya sedikit nasi dan potongan ikan, aku merenung: ternyata jika kebutuhan dasar tak terpenuhi, yang lemah bisa jadi liar, dan yang jinak bisa berubah jadi buas. Kadang, kita terlalu cepat menilai siapa yang jahat, tanpa tahu apa yang memaksanya seperti itu.

Dan begitulah, di dapur kecil ini, aku belajar satu hal besar: bahkan kucing pun bisa terlihat seperti penjahat, jika ia sedang sangat lapar.

Ternyata benar, kalau lagi lapar, semua bisa jadi barbar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *