PukaNews.com, Fakfak, Papua Barat — Mimpi akan kemandirian pangan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, semakin mendekati kenyataan. Kepala Dinas Pertanian Fakfak, Saleh Yamin, menyatakan optimisme bahwa target swasembada pangan dapat tercapai melalui berbagai program inovatif dan dukungan penuh bagi para petani.
Optimisme ini bukan tanpa dasar. Sejalan dengan amanat SE Mendagri Nomor 900.1.1/640/SJ/2025 poin 6 tentang peningkatan swasembada, Dinas Pertanian Fakfak telah menyiapkan sejumlah penyuluh yang akan terjun langsung ke lapangan. Para penyuluh ini akan mendampingi petani dalam mengembangkan keberagaman produk pangan lokal, meningkatkan produksi pertanian di tingkat kampung, serta meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian masyarakat.

“Untuk mencapai target tersebut, Dinas Pertanian Fakfak telah menyiapkan sejumlah penyuluh guna mendukung keberagaman produk pangan lokal untuk meningkatkan produksi pertanian di tingkat kampung dan hasil pertanian masyarakat baik kualitas maupun kuantitas,” ujar Saleh Yamin.
Langkah-langkah strategis yang diambil oleh Dinas Pertanian Fakfak ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan petani. Salah satunya adalah Abang Zab Bay, seorang petani sekaligus tetua Raja Ati-ati. Dalam konferensi pers dengan media ini, Zab Bay mengungkapkan bahwa di era pemerintahan SANTUN, Fakfak sudah bisa mengurangi ketergantungan pada pasar luar.

“Di era pemerintahan SANTUN, Fakfak sudah bisa mengurangi ketergantungan pada pasar luar. Hal ini beberapa kali saya sampaikan melalui pesan kepada masyarakat ekonomi kecil,” ungkap Zab Bay.
Zab Bay juga menyoroti masalah supply and demand yang selama ini menjadi kendala bagi petani kecil di Fakfak. Ia mengungkapkan bahwa selama ini petani kecil kesulitan mengembangkan ekonomi mereka karena harus menunggu pasokan sayur-sayuran, singkong, keladi, dan lain-lain dari Sorong.
“Bagaimana kita masyarakat kecil mau kembangkan (pertumbuhan) ekonomi kalau sayur-sayuran, singkong, keladi, dll kita tunggu kapal dari Sorong baru kita bisa berproduksi (ini persoalan supply and demand di Fakfak),” tegas Zab Bay.
Namun, dengan adanya langkah-langkah yang diambil oleh Dinas Pertanian Fakfak, masalah ini perlahan-lahan teratasi. Program pengembangan kebun pangan lokal yang simbiosis mutualisme dengan peningkatan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan lokal menjadi solusi yang sangat membantu.
“Selain itu juga langkah yang diambil Dinas Pertanian Fakfak sangat membantu mengembangkan kebun pangan lokal yang simbiosis mutualis dengan peningkatan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga pangan lokal,” jelas Zab Bay.
Keberhasilan ini tentu tidak terlepas dari visi misi SANTUN MEMBARA yang bertujuan untuk mensejahterakan rakyat melalui peningkatan ekonomi lokal. Melalui program-program yang tepat sasaran dan dukungan dari berbagai pihak, visi misi ini semakin menunjukkan hasil yang positif.
Program swasembada pangan yang digalakkan oleh Dinas Pertanian Fakfak tidak hanya berdampak pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat secara luas. Dengan ketersediaan pangan lokal yang mencukupi, masyarakat tidak lagi perlu khawatir tentang kekurangan pangan atau harga pangan yang mahal. Selain itu, program ini juga membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan pendapatan mereka dan mengembangkan usaha pertanian mereka.
Meskipun kemajuan yang signifikan telah dicapai, tantangan tetap ada. Perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, dan infrastruktur yang belum memadai menjadi beberapa kendala yang perlu diatasi. Namun, dengan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah, dukungan dari masyarakat, dan inovasi-inovasi di bidang pertanian, diharapkan tantangan-tantangan ini dapat diatasi dan tujuan swasembada pangan di Fakfak dapat segera tercapai.
Optimisme Kepala Dinas Pertanian Fakfak terkait target swasembada pangan bukanlah sekadar harapan kosong. Program-program yang telah dan sedang dijalankan, dukungan dari penyuluh pertanian, serta partisipasi aktif dari masyarakat menjadi bukti bahwa mimpi akan kemandirian pangan di Fakfak selangkah lebih dekat untuk menjadi kenyataan. Keberhasilan ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ekonomi lokal.
( Jefri Bernardus )













