PUKANEWS.COM, TIMOR TENGAH SELATAN – Panen padi menggunakan metode PMAAS dengan pola tanam benih langsung (Tabela) di lahan seluas 1,1 hektare milik Kelompok Tani Nekmese Baus, Desa Baus, Kecamatan Boking, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kamis (5/11/2026), menjadi momentum untuk menguji efektivitas metode budidaya padi yang lebih efisien sekaligus mendorong peningkatan produktivitas pertanian.
Pola Tabela merupakan metode penanaman padi dengan menaburkan benih secara langsung ke lahan tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit. Metode ini memiliki perbedaan dengan pola tanam konvensional, baik dari tahapan budidaya maupun pengelolaan penggunaan pestisida.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Baus, Daut J. Tulle, mengatakan penerapan metode tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan pola budidaya baru kepada petani agar dapat meningkatkan efisiensi dan hasil produksi.
“Dengan pola ini berbeda dengan yang selama ini ditanam. Ada perubahan tata cara pola tanam, termasuk dalam penggunaan pestisidanya,” jelas Daut J. Tulle.
Menurutnya, hasil demplot seluas 1,1 hektare tersebut akan menjadi bahan evaluasi untuk mengukur tingkat produktivitas metode Tabela dibandingkan dengan pola penanaman konvensional.
Dari hasil pengamatan awal, satu rumpun tercatat memiliki sekitar 32 batang. Sementara itu, berdasarkan tiga titik pengubinan, estimasi produktivitas mencapai 10,6 ton per hektare.
“Sekarang akan dihitung dari demplot ini, mulai dari hasil satu rumpun yang mencapai 32 batang hingga estimasi 10,6 ton per hektare berdasarkan tiga titik pengubinan dengan metode PMAAS. Selanjutnya akan dibandingkan dengan hasil penanaman konvensional,” ungkapnya.
Ia berharap hasil uji coba tersebut menunjukkan keberhasilan sehingga dapat dijadikan model percontohan atau role model untuk dikembangkan di seluruh wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan.
“Kalau ini berhasil, mudah-mudahan bisa menjadi role model dan dikembangkan di seluruh wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan,” harapnya.
Petani Diminta Waspadai Ancaman El Nino
Pada kesempatan yang sama, Melki Selan selaku pemilik lahan sawah mengingatkan para petani agar mulai mengantisipasi ancaman musim kemarau panjang akibat fenomena El Nino.
Ia mengajak masyarakat, khususnya petani, untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan berkurangnya ketersediaan air yang dapat berdampak terhadap aktivitas pertanian.
“BMKG telah melansir bahwa kita akan mengalami El Nino, yakni kemarau yang lebih lama dan lebih kering. Untuk itu, mari kita bersama-sama waspada dalam menghadapinya,” ungkap Melki.
Petani Boking Tantang Dinas Pertanian Turunkan Traktor Roda Empat
Di balik harapan peningkatan hasil panen, para petani di Desa Baus juga menyampaikan tuntutan kepada Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan, khususnya Dinas Pertanian, agar tidak hanya mendorong peningkatan produksi melalui program dan inovasi, tetapi juga memberikan dukungan sarana pertanian yang nyata.
Ketua Kelompok Tani Nekmese Baus mengungkapkan, hingga saat ini kelompok tani di wilayah Kecamatan Boking masih membutuhkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), terutama traktor roda empat untuk mendukung pengolahan lahan persawahan.
Ia secara terbuka menantang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Timor Tengah Selatan agar segera merealisasikan bantuan tersebut bagi kelompok tani di wilayah Baus dan Kecamatan Boking.
Menurutnya, kebutuhan alsintan sudah lama disampaikan, termasuk ketika berlangsung pengukuhan Kelompok Tani Satu Amanatun di wilayah Baus. Namun, para petani mengaku masih menunggu realisasi dari janji bantuan yang pernah disampaikan.
“Kami menantang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Timor Tengah Selatan untuk bisa menurunkan bantuan alsintan berupa traktor roda empat bagi kelompok tani di wilayah Kecamatan Boking. Selama ini kami masih menunggu janji yang pernah disampaikan saat pengukuhan Kelompok Tani Satu Amanatun di wilayah Baus,” tegasnya.
Ia juga berharap program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) dapat berjalan pada 2027 mendatang sehingga turut membantu memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pertanian masyarakat.
“Kami berharap CSR bisa berjalan pada tahun 2027 mendatang. Petani membutuhkan dukungan nyata agar pengolahan lahan dan peningkatan hasil pertanian dapat berjalan lebih maksimal,” pungkasnya.
Panen perdana dengan metode Tabela tersebut kini menjadi ujian bagi penerapan inovasi pertanian di Kecamatan Boking. Namun, keberhasilan meningkatkan produktivitas tidak cukup hanya mengandalkan metode tanam. Dukungan alsintan, ketersediaan air, pendampingan penyuluh, serta komitmen pemerintah daerah juga menjadi faktor penting agar petani mampu meningkatkan hasil produksi dan kesejahteraannya.
Penulis: Jitrton
