Reporter : Imran Alwi
FAKFAK, PUKANEWS.COM – Di Fakfak, aroma pala bukan sekadar rempah yang menembus pasar dunia sejak ratusan tahun lalu. Bagi masyarakat setempat, pala adalah identitas sekaligus penghidupan. Di sela hamparan kebun dan penyulingan tradisional minyak kayu putih, tersimpan mimpi sederhana: agar anak-anak muda Fakfak bisa mengelola warisan ini dengan cara yang lebih modern dan berdaya saing.
Mimpi itu mendapat dorongan baru ketika Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak mengirim enam orang untuk mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) di Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPT) Ambon, 25–29 Agustus 2025. Mereka terdiri dari empat aparatur sipil negara (ASN) dan dua pelaku usaha Orang Asli Papua (OAP) yang sehari-hari bergelut dengan pala dan minyak kayu putih.
Plt. Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, menyebut langkah ini sebagai investasi jangka panjang. “Kami ingin menyiapkan SDM yang profesional, baik ASN maupun pelaku usaha lokal. Dengan keterampilan yang memadai, mereka bisa memperkuat budidaya, pengolahan, hingga pemasaran komoditas unggulan daerah,” ujarnya.
Bagi Bertus Woy, pelaku usaha penangkaran pala yang turut serta, bimtek ini adalah momentum penting. “Kami didorong untuk menjamin benih pala yang unggul dan bersertifikat. Itu kunci agar Fakfak tetap dikenal sebagai daerah penghasil pala berkualitas,” katanya.
Sementara itu, Albayan Iha yang menggeluti usaha minyak kayu putih melihat pelatihan ini sebagai peluang memperluas pasar. “Selama ini produksi hanya untuk kebutuhan lokal. Dengan ilmu baru, kami berharap bisa meningkatkan kualitas agar mampu bersaing lebih luas,” jelasnya.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini memberi harapan baru. Harapan agar generasi muda OAP tak sekadar mewarisi kebun pala, tapi juga mampu mengelolanya dengan standar modern, menciptakan wirausaha tangguh, dan mengangkat nama Fakfak ke pasar nasional.
Di balik butiran pala dan tetesan minyak kayu putih, tersimpan mimpi besar: membangun SDM tangguh yang tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga membawa Fakfak menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya saing. (*)
