Cerpen  

Kisah Seorang Perempuan Papua dari Daerah Konflik Sukses Menjadi Dokter

PukaNews.com, Papua — Kabupaten Nduga adalah salah satu wilayah rawan konflik antara TPNPB dan aparat keamanan. Nama Kabupaten ini sudah tidak asing lagi ditelinga banyak orang.

Setuasi Konflik ini menyebabkan berbagai sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan mengalami stagnasi. Namun, ditengah sulit ini, ada sosok inspiratif bernama Nita, seorang anak muda yang bermimpi besar untuk pendidikan yang lebih baik. Kondisi didaerahnya tidak membuatnya menyerah.

Nita adalah siswa berprestasi yang telah meraih berbagai penghargaan dibidang akademik, khususnya didalam matematika pada tahun 2014 saat masih duduk dibangku SMP, ia berhasil meraih medali perunggu dalam ajang World Mathematics Team Championship ( WMTC) yang digelar di China. Tak hanya itu, ia juga memenangkan berbagai kompetisi matematika tingkat nasional, membuktikan bahwa anak – anak Papua potensi luar biasa.

Nita bercerita bahwa pemerintah daerah (Pemdah) Nduga memilih anak – anak yang yang mengalami kesulitan dalam belajar untuk mendapat pendidikan yang lebih baik. Ia pun dibawa Tangerang untuk belajar di Surya Institute. Ketika ia bertemu dengan Presiden Joko Widodo, ia menceritakan pengalamannya dan menunjukkan hasil dari kerja kerasnya, yang membuah manis dari sederet prestasi.

Meski memiliki kesempatan untuk meraih kesuksesan ditempat lain, Nita tetap berniat kembali ke kampung halamannya untuk mengabdi, seperti ayahnya. Namun, ia memilih jalur pengabdian yang berbeda. Setelah lulus SMA, Nita melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI). Dengan tekat dan kerja keras, ia akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan dan ia menjadi seorang dokter.

“Soalnya di sana, dokter itu satu kabupaten cuma satu, yang lain adalah tenaga medis seperti mantri. Saya ingin membangun rumah sakit disana. Saat ini, dikampung kami belum ada jalan beraspal, jadi kemana – mana harus berjalan kaki. Jika ada yang sakit parah, tidak ada rumah sakit, dan harus dibawa dengan helikopter ke kota,” ungkap Nita.

Kisah Nita membuktikan bahwa banyak anak – anak Papua yang cerdas, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan baik. Saat ini, semakin banyak putra – putri Papua yang berprestasi diberbagai bidang. Pendidikan memegang peran penting dalam melawan stigma bahwa orang Papua tertinggal dan tidak mampu bersaing.

[ Jefri Bernardus ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *