Reporter: Imran Alwi
FAKFAK, PUKANEWS. COM – Karnaval tingkat pelajar SMP/MTs dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, pada Selasa (19/8/2025) mendadak riuh ketika dua sosok tak biasa muncul di tengah barisan peserta. Bukan pakaian adat, bukan pula seragam sekolah berwarna-warni, melainkan dua siswa yang berjalan dengan kepala tikus raksasa.
Dengan tampilan jas hitam rapi, melangkah pelan sambil membawa koper bertuliskan “Hasil Korupsi Rp 300 Triliun – Vonis 6,5 Tahun”.
Aksi itu sontak menarik perhatian warga yang memadati arena karnaval. Ada yang terperangah, ada pula yang tertawa getir menyaksikan simbol yang terasa begitu dekat dengan realitas negeri ini.
“Ini sindiran keras, tapi memang faktanya begitu. Hukum jangan tumpul ke atas,” kata Andrian, salah satu warga yang menyaksikan langsung aksi simbolik itu.
Baginya, karnaval bukan hanya soal hiburan, melainkan ruang yang tepat untuk menyuarakan keresahan masyarakat.
Simbol Tikus, Simbol Koruptor
Tikus sejak lama dikenal sebagai simbol kerakusan. Hewan yang kerap menggerogoti apa saja tanpa peduli sekelilingnya itu dianggap mewakili perilaku koruptor: menghisap uang rakyat, merugikan banyak orang, dan sulit diberantas.
Kepala MTs Muhammadiyah Tahfidzul Qur’an Fakfak, Nasrun Kiliwouw, menyebut penampilan muridnya sengaja dirancang sebagai bentuk kritik sosial.
“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa korupsi adalah penyakit bangsa. Dengan cara ini, anak-anak bisa belajar sejak dini bahwa korupsi itu merusak masa depan,” ujarnya.
Bagi Nasrun, menghadirkan murid dengan topeng tikus justru menjadi pengingat yang kuat. Pesan itu lebih mudah sampai ke masyarakat dibanding hanya sekadar pidato atau tulisan.
Refleksi di Hari Kemerdekaan
Momen kemerdekaan sejatinya adalah perayaan tentang lepasnya bangsa dari belenggu penjajahan. Namun di tengah semarak karnaval, Fakfak justru mengingatkan publik bahwa ada “penjajah baru” yang masih berkeliaran: korupsi.
Pesan itu sederhana namun tajam—merdeka bukan hanya soal terbebas dari penjajah asing, melainkan juga terbebas dari tikus-tikus yang menggerogoti uang rakyat.
Bagi sebagian warga, aksi dua siswa itu bukan sekadar hiburan panggung karnaval, melainkan refleksi. “Kita bisa tertawa melihatnya, tapi sebenarnya ini cermin pahit. Korupsi di Indonesia masih terus terjadi,” tutur seorang warga lain yang ikut menonton.
Pesan dari Fakfak untuk Indonesia
Di balik topeng tikus dan koper hitam, terselip harapan agar pesan kecil dari Fakfak bisa menggema lebih luas. Bahwa dari kota kecil di Papua Barat, suara masyarakat menolak korupsi tak kalah lantang dibandingkan di pusat kekuasaan.
“Kami ingin semua orang sadar, jangan biarkan korupsi menjadi warisan untuk generasi berikutnya,” tegas Nasrun.
Karnaval itu pun berakhir dengan tepuk tangan penonton. Namun gema pesan simbolik tentang “tikus koruptor” tampaknya akan terus bergema, mengingatkan bangsa ini bahwa perjuangan melawan korupsi adalah bagian dari menjaga kemerdekaan yang sesungguhnya. (*)
