banner Penkab Muba

175 Hotspot Terdeteksi, Karhutla Berulang di OKI Mulai Dipetakan: Titik Rawan dan Tanggung Jawab Pengelola Disorot

PUKANEWS.COM, OKI — Karhutla di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, memasuki persoalan yang lebih serius. Bukan hanya soal berapa banyak titik api yang muncul, tetapi juga bagaimana kebakaran dapat kembali terjadi di lokasi yang sama.

Pemerintah Kabupaten OKI kini mulai memetakan titik-titik karhutla yang berulang untuk mengetahui tingkat kerawanan, penyebab kebakaran, kecepatan respons, hingga kendala penanganan di lapangan.

Persoalan tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Terbatas Pemantauan dan Tindak Lanjut Penanganan Karhutla Kabupaten OKI, Senin (21/9/2026).

Berdasarkan data pemerintah provinsi yang disampaikan Kepala BPBD OKI Pratama Suryadi, tercatat 175 hotspot pada 21 September 2026. Angka tersebut menurun dibandingkan sehari sebelumnya, namun sejumlah wilayah masih menunjukkan konsentrasi titik panas yang tinggi.

Sungai Menang tercatat sebagai wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 42 titik. Disusul Tulung Selapan 41 titik, Cengal 29 titik, Mesuji 17 titik dan Kayuagung 14 titik.

Bukan Sekadar Memadamkan Api

Pemerintah daerah kini menggeser fokus evaluasi dari sekadar pemadaman menuju persoalan mengapa kebakaran terus berulang.

Lokasi yang berulang terbakar akan dikelompokkan berdasarkan tingkat kerawanan. Pemetaan tersebut nantinya menjadi dasar penentuan prioritas personel, patroli, peralatan, sumber air dan logistik.

Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki mengatakan penurunan hotspot harus diikuti dengan perbaikan strategi penanganan.

“Bukan hanya berapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan. Kita harus melihat apakah titik itu baru atau berulang, apa penyebabnya, bagaimana respons kita, apa yang belum berhasil dan apa yang perlu diperbaiki,” kata Muchendi.

Pernyataan tersebut menempatkan kebakaran berulang sebagai persoalan yang perlu ditelusuri lebih jauh, bukan hanya ditangani setelah api muncul.

Respons Terbentur Keterbatasan

Di lapangan, penanganan karhutla melibatkan BPBD, Polres OKI, Kodim 0402/OKI, Manggala Agni dan unsur kecamatan.

Namun, ketika beberapa titik muncul secara bersamaan, petugas harus menentukan skala prioritas karena masih terdapat keterbatasan personel, peralatan dan sumber air.

“Memang ada keterbatasan alat dan personel. Ketika beberapa titik muncul bersamaan, kami harus menentukan prioritas penanganan,” ujar Pratama.

Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang akan dievaluasi pemerintah daerah, termasuk melalui penguatan sarana-prasarana dan kebutuhan personel tambahan serta relawan.

Kebakaran Berulang di Konsesi Jadi Sorotan

Persoalan semakin mendapat perhatian ketika kebakaran terjadi berulang di kawasan konsesi atau lahan yang dikelola pihak tertentu.

Muchendi meminta perusahaan dan pengelola lahan memperkuat pencegahan serta penanganan di wilayah tanggung jawab masing-masing.

“Kalau terjadi kebakaran berulang di satu lokasi, kita harus tahu penyebabnya dan siapa yang bertanggung jawab. Perusahaan yang memiliki atau mengelola lahan harus terlibat maksimal,” ujarnya.

Pemkab OKI selanjutnya akan mengarahkan patroli terpadu berdasarkan zona rawan. Integrasi antara BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah kecamatan, perusahaan dan relawan akan disesuaikan dengan tingkat kerawanan masing-masing wilayah.

Sumber Air dan Infrastruktur Pencegahan

Selain memperkuat respons ketika api muncul, pemerintah juga akan memetakan kebutuhan sumur bor, embung dan sekat kanal di wilayah rawan.

Sarana tersebut diarahkan untuk memperkuat pencegahan sekaligus memastikan ketersediaan sumber air ketika kebakaran terjadi.

Pemkab OKI juga akan mempercepat pemenuhan sarana-prasarana yang diusulkan BPBD, TNI dan Polri. Penyesuaian anggaran dapat dilakukan jika terdapat kebutuhan mendesak sesuai ketentuan.

Dampak ke Masyarakat Ikut Dipantau

Karhutla tidak hanya menyisakan persoalan kebakaran lahan. Dampaknya terhadap masyarakat juga menjadi bagian dari evaluasi.

Pemkab OKI akan menggunakan 33 puskesmas untuk memantau tren ISPA dan kondisi kelompok rentan. Data tersebut akan menjadi dasar penyediaan dukungan kesehatan, termasuk masker, vitamin dan pelayanan medis.

Muchendi menegaskan penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada persoalan pemadaman.

“Jangan sampai kita hanya bicara api, tetapi lupa dampaknya kepada masyarakat,” kata Muchendi.

Dengan 175 hotspot yang masih tercatat pada 21 September, pemetaan titik karhutla berulang kini menjadi salah satu langkah penting pemerintah OKI untuk mengetahui di mana kebakaran terus terjadi, bagaimana respons dilakukan, apa kendalanya, serta siapa saja yang memiliki tanggung jawab dalam pencegahan di wilayah tersebut.

Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *