Agama  

“Satu Tungku Tiga Batu”, Warisan Persaudaraan Warnai Perayaan Misi Katolik di Fakfak

Reporter: Imran Alwi. Fuad

PukaNews.com, FAKFAK –- Semangat persaudaraan lintas agama dan nilai toleransi yang telah mengakar kuat di Kabupaten Fakfak mewarnai peringatan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua, Jumat (22/5/2026). Momentum bersejarah itu menjadi potret nyata harmonisasi kehidupan masyarakat Papua yang hidup dalam filosofi “Satu Tungku Tiga Batu”.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 06.00 WIT di Rumah Kapitan, Kampung Sekru, Distrik Pariwari, Kabupaten Fakfak. Prosesi adat dipimpin keluarga besar umat Islam Kampung Sekru sebagai bentuk penghormatan dan kebersamaan dalam menyambut perayaan iman umat Katolik.

Perayaan tersebut dihadiri Uskup Keuskupan Timika Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, O.S.A., para imam dari lima keuskupan di Regio Papua, Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong Pastor Izaak Bame, Pr., para pastor se-TPW Fakfak, tokoh agama, tokoh adat, panitia perayaan, serta umat Muslim dan Katolik dari berbagai wilayah.

Suasana keakraban tampak dalam prosesi adat yang dilanjutkan dengan tradisi minum kopi bersama di Rumah Kapitan. Momen tersebut menjadi simbol kuat silaturahmi dan persaudaraan antarumat beragama yang selama ini terjaga di Fakfak.

Rumah Kapitan Kampung Sekru memiliki catatan sejarah penting dalam perjalanan misi Katolik di Papua. Tempat tersebut diyakini menjadi lokasi pertama Pastor Cornelis Johannes Le Cocq d’Armandville, S.J., singgah saat tiba di Tanah Papua.

Dalam sejarahnya, Pastor Le Cocq d’Armandville diterima dan diberi tempat tinggal sementara oleh keluarga Kapitan yang saat itu telah memeluk agama Islam. Dari tempat tersebut kemudian berkembang karya misi Katolik di Papua, termasuk pembaptisan pertama terhadap 73 anak.

Semangat toleransi semakin terlihat ketika warga Muslim dan umat Katolik berjalan berdampingan mengikuti rangkaian prosesi. Kebersamaan itu mencerminkan filosofi hidup masyarakat Fakfak yang selama ini dikenal dengan istilah “Satu Tungku Tiga Batu”, sebuah simbol persatuan dalam keberagaman.

Usai prosesi adat, para remaja masjid dan tokoh masyarakat Muslim Kampung Sekru turut mengantarkan Mgr. Bernardus Bofitwos Baru bersama rombongan melalui jalur laut menuju lokasi bersejarah tempat Pastor Le Cocq d’Armandville pertama kali menginjakkan kaki di Tanah Papua.

Setibanya di lokasi, rombongan disambut umat Katolik yang telah menunggu di pesisir Kampung Sekru. Sejumlah prosesi kemudian dilaksanakan, termasuk penyerahan rosario oleh uskup kepada masyarakat Kampung Torea yang diyakini merupakan bagian dari keturunan 73 orang pertama yang menerima pembaptisan.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Rally Rosario Arca Bunda Maria sekaligus napak tilas perjalanan 132 Tahun Misi Katolik dari Kampung Sekru menuju Kampung Raduria melalui jalur darat.

Ribuan umat mengikuti perarakan dengan khidmat. Di sepanjang perjalanan, masyarakat Muslim Kampung Sekru, mulai dari anak-anak, remaja masjid, ibu-ibu hingga para tokoh adat, turut menyambut dan berjalan bersama rombongan dalam suasana penuh rasa hormat dan kekeluargaan.

Salah seorang warga Kampung Sekru, Saida, mengatakan sosok Bunda Maria atau Sayyidah Maryam juga memiliki tempat istimewa dalam ajaran Islam.

“Beliau dihormati karena kesucian, ketaatan beribadah, serta mukjizat luar biasa dari Allah SWT saat melahirkan Nabi Isa AS tanpa pernah disentuh laki-laki,” ujarnya.

Napak tilas kemudian berlanjut menuju Kampung Raduria dan diteruskan ke Pulau Bonyom melalui jalur laut. Pulau tersebut menjadi salah satu situs penting sejarah misi Katolik di Papua karena masih menyimpan peninggalan sumur tua yang diyakini berasal dari masa pelayanan Pastor Le Cocq d’Armandville.

Sesampainya di Pulau Bonyom, Arca Bunda Maria ditempatkan di Goa Maria yang baru dibangun sebagai bagian dari pengembangan kawasan wisata religi dan sejarah misi Katolik di Papua.

Prosesi dipimpin langsung Mgr. Bernardus Bofitwos Baru bersama para pastor, suster, tokoh agama, tokoh adat, dan ribuan umat yang memadati kawasan Pulau Bonyom.

Perayaan 132 Tahun Misi Katolik di Tanah Papua tersebut tidak hanya menjadi momentum refleksi perjalanan sejarah gereja, tetapi juga menegaskan Fakfak sebagai daerah yang terus menjaga warisan persaudaraan, toleransi, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Papua. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *