Pewarta: Imran Alwi. Fuad
PUKANEWS.COM, FAKFAK – Di tengah kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah, keluarga besar Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 430 Fakfak, Papua Barat, menggelar Shalat Istisqa untuk memohon pertolongan Allah SWT agar hujan segera turun dan kondisi alam kembali membaik.
Shalat Istisqa dilaksanakan di lapangan MTsN 430 Fakfak, Jumat (2/10/2026) yang dimulai sejak pukul 07.15–08.00 WIT kemarin. Kegiatan tersebut diikuti kepala madrasah, dewan guru, staf, serta seluruh peserta didik.
Shalat dipimpin Ustaz Dr. Karim Abd Rahman, S.Ag., M.M., yang bertindak sebagai imam sekaligus menyampaikan khotbah dan pesan keagamaan kepada jamaah.
Dalam khotbahnya, Ustaz Karim mengatakan doa dan permohonan kepada Allah SWT merupakan bagian dari ikhtiar manusia ketika menghadapi kondisi yang berada di luar kemampuannya.
“Memohon dan meminta kepada Allah adalah bagian dari ikhtiar kita sebagai hamba. Jika Allah belum mengabulkan permohonan kita, tidak ada kerugian bagi kita. Oleh karena itu, hendaknya kita tetap berhusnuzan kepada Allah SWT, karena Dialah Zat yang mengatur seluruh alam semesta ini,” ujarnya.
Ia juga mengajak jamaah menjadikan kemarau dan berbagai bencana yang terjadi sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak istigfar, bertobat, meningkatkan amal saleh, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan antara lain dengan mengingatkan jamaah pada firman Allah SWT dalam Surah Nuh ayat 10–11:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًا ۙ يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًا
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’”
Menurut Ustaz Karim, manusia tidak terlepas dari kesalahan. Karena itu, kondisi yang dihadapi saat ini hendaknya menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.
Kepala MTsN 430 Fakfak, Drs. La Boisi, S.Hi., M.MPd., mengatakan pelaksanaan Shalat Istisqa tersebut menjadi pengalaman pertama bagi sebagian keluarga besar madrasah.
Menurut dia, kegiatan itu tidak hanya menjadi pelaksanaan ibadah sunah, tetapi juga memberikan pengalaman keagamaan yang bermakna bagi para peserta didik.
“Bagi kami, ini bukan sekadar kegiatan keagamaan. Anak-anak mendapatkan pembelajaran secara langsung bagaimana menghadapi kondisi alam, memanjatkan doa, bersabar, sekaligus melakukan introspeksi,” kata La Boisi saat dikonfirmasi media ini melalui WhatsApp, Sabtu (3/10/2026).
Ia mengatakan pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman peserta didik bahwa pembelajaran agama tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan Shalat Istisqa berlangsung khidmat. Para jamaah memanjatkan doa agar Allah SWT menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan serta memberikan keselamatan bagi masyarakat yang terdampak kekeringan dan karhutla.
Bagi MTsN 430 Fakfak, doa tersebut juga diharapkan berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata dalam menjaga lingkungan. Para siswa didorong untuk memahami pentingnya menjaga hutan, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Di tengah kondisi cuaca yang masih kering, keluarga besar MTsN 430 Fakfak berharap hujan segera turun sehingga dapat membantu mengatasi kekeringan, meredam karhutla, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta lingkungan.
Shalat Istisqa pun menjadi pengingat bahwa menghadapi persoalan lingkungan membutuhkan dua hal sekaligus: mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa dan memperkuat ikhtiar manusia melalui kepedulian terhadap alam. (*)














