Berita  

Dari RSUD Fakfak, Josep Goenawan Tegaskan Gereja Harus Hadir Saat Umat Menghadapi Kesulitan

Pewarta: Imran Alwi. Fuad

PUKANEWS.COM, FAKFAK — Ketua Dewan Paroki Santo Yosep Fakfak, Josep Goenawan, bersama sejumlah pengurus Dewan Paroki mengunjungi pasien yang sedang menjalani perawatan di RSUD Fakfak, Minggu (13/9/2026).

Kunjungan tersebut menjadi wujud kepedulian dan pendampingan Gereja kepada umat yang tengah menghadapi sakit sekaligus menjalani proses pemulihan.

Dalam kunjungan itu, Josep tidak hanya datang untuk melihat kondisi pasien. Ia juga memberikan penguatan, motivasi, serta dukungan moral kepada pasien dan keluarga yang mendampingi.

Josep berpesan agar pasien tetap kuat dan tidak kehilangan harapan selama menjalani proses pengobatan.

“Harapan kami, umat yang sedang sakit dapat segera diberikan kesembuhan, kekuatan, dan ketabahan. Jangan merasa sendiri dalam menghadapi sakit, karena Gereja selalu hadir dan bersama-sama dengan umat dalam setiap keadaan,” kata Josep.

Menurut dia, kehidupan menggereja tidak hanya berlangsung di dalam gedung gereja. Gereja juga dipanggil untuk hadir ketika umat menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk saat sakit dan membutuhkan pendampingan.

Ia pun mengajak seluruh umat untuk terus membangun kepedulian serta saling memberikan dukungan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan.

“Semoga melalui perhatian kecil seperti ini, umat dapat merasakan bahwa keluarga besar Gereja Katolik selalu hadir, peduli, dan mendoakan,” ujarnya.

Kepada pasien yang sedang menjalani perawatan, Josep meminta agar tetap percaya kepada Tuhan dan menjalani seluruh proses pengobatan dengan penuh kesabaran.

“Untuk saudara-saudari umat yang sedang menjalani perawatan, tetaplah kuat dan jangan kehilangan harapan. Sakit bukan berarti kita berjalan sendiri. Ada keluarga, sahabat, dan Gereja yang selalu hadir mendampingi serta mendoakan,” pesannya.

Ia juga mengingatkan pasien untuk tidak menyerah menghadapi proses pemulihan.

“Tetaplah percaya kepada Tuhan dan serahkan seluruh proses kesembuhan kepada-Nya. Jangan menyerah, tetap semangat menjalani pengobatan dan ikuti setiap proses perawatan dengan baik,” lanjutnya.

Josep memastikan Dewan Paroki Santo Yosep Fakfak akan terus memberikan perhatian kepada umat yang sedang menghadapi kondisi sulit.

“Kami dari Dewan Paroki Santo Yosep Fakfak terus mendoakan agar Tuhan memberikan kekuatan, ketabahan, dan kesembuhan. Semoga segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga serta umat di Gereja,” katanya.

Sementara itu, salah satu pengurus Komunikasi Sosial (Komsos) Dewan Paroki Santo Yosep Fakfak, Ronaldo Josef Letsoin, mengatakan kunjungan kepada umat yang sakit merupakan bagian dari pelayanan dan perhatian pastoral Gereja.

Menurut Ronaldo, setiap informasi mengenai umat yang sedang sakit sebisa mungkin segera ditindaklanjuti oleh Dewan Paroki.

“Di Gereja ini kami memiliki berbagai kegiatan dan program kerja, mulai dari kerja bakti, kegiatan sosial, hingga kunjungan kepada umat. Ketika kami mendapatkan informasi bahwa ada umat yang sedang sakit, informasi tersebut segera kami sampaikan kepada Dewan Paroki agar dapat ditindaklanjuti,” jelas Ronaldo.

Ia mengatakan Josep kerap mengambil inisiatif untuk turun langsung melihat kondisi umat yang sedang sakit, baik di rumah maupun di rumah sakit.

“Kehadiran secara langsung merupakan bagian penting dari perhatian Gereja kepada umat,” ujarnya.

Namun, kepedulian Josep, kata Ronaldo, tidak hanya ditujukan kepada umat Katolik.

Saat berkunjung ke RSUD Fakfak, Josep juga memberikan perhatian kepada pasien lain yang sedang menjalani perawatan tanpa melihat latar belakang agama.

“Kalau beliau berkunjung ke RSUD untuk menjenguk orang sakit, tidak hanya umat Katolik yang dikunjungi, tetapi siapa saja. Beliau tidak memandang latar belakang agama. Bagi beliau, setiap orang yang sedang sakit membutuhkan perhatian, dukungan, dan kepedulian,” kata Ronaldo.

Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa kepedulian sosial dapat menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan semangat kemanusiaan di tengah masyarakat.

“Kami ingin setiap umat merasakan bahwa ketika sedang sakit, menghadapi kesulitan, atau berada dalam situasi yang berat, mereka tidak berjalan sendirian. Ada keluarga besar Gereja yang hadir, mendengarkan, mendoakan, serta memberikan dukungan dan semangat,” pungkasnya.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pelayanan Gereja tidak berhenti pada kegiatan keagamaan di lingkungan internal. Kehadiran di tengah orang sakit dan masyarakat yang membutuhkan menjadi bentuk nyata kepedulian, solidaritas, serta semangat kemanusiaan yang dapat dirasakan lintas perbedaan. (*)

Exit mobile version