Pematang Siantar, PukaNews.com — Pematang Siantar, sebuah kota di Sumatera Utara, kini menjadi sorotan tajam akibat peredaran narkoba yang semakin mengkhawatirkan. Di tengah hiruk-pikuk kota, seorang pria bernama Umar Harahap diduga menjadi pengendali utama dari bisnis gelap narkoba di wilayah ini. Mirisnya, meski nama Umar sudah sering disebut-sebut dalam berbagai kasus, hingga kini dia masih belum tersentuh oleh hukum.
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Gang Bangsal di Kota Pematang Siantar dikenal sebagai salah satu pusat peredaran narkoba yang besar. Meski berada di wilayah padat penduduk, aktivitas ilegal ini berlangsung terang-terangan. Kejahatan tersebut seolah tak tersentuh oleh pihak berwenang. Beberapa nama seperti Panjol, Lolok, Dahlan, dan Sengon disebut-sebut sebagai kaki tangan Umar Harahap yang setia mengendalikan operasi di lapangan.

Namun, masyarakat mulai bertanya-tanya, mengapa aparat penegak hukum tidak bertindak?
Polres Pematang Siantar dianggap tidak mampu mengatasi dominasi Umar Harahap dan jaringan narkobanya. Situasi ini memicu pertanyaan besar tentang efektivitas kinerja kepolisian setempat. Masyarakat menduga ada kekuatan besar di balik bebasnya Umar, bahkan menyebut kemungkinan adanya suap yang diberikan kepada aparat penegak hukum untuk melindungi bisnis haramnya.
Lebih lanjut, ada dugaan bahwa Badan Narkotika Nasional (BNN) Pematang Siantar juga terlibat dalam praktik korupsi ini. Rumor beredar bahwa BNN setempat menerima suap dari Umar Harahap, yang memungkinkan bandar besar ini terus melanjutkan operasinya tanpa hambatan berarti.
“Kami hanya bisa melihat dan mendengar tanpa bisa berbuat apa-apa. Umar Harahap seolah kebal hukum. Kalau memang tidak ada yang bisa menangkap dia, buat apa ada polisi di sini?” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Tak hanya polisi dan BNN yang disoroti, warga juga mengungkapkan betapa takut dan khawatirnya mereka dengan situasi di kota ini. Salah seorang warga menyebutkan bahwa keadaan di Gang Bangsal, yang menjadi pusat peredaran narkoba, lebih parah daripada yang ia bayangkan sebelumnya.
“Ngeri kali Bangsal itu, Bang. Kalah Mexico dibuat. Melebihi Pablo Escobar seperti di TV itu, Bang. Bahkan polisi sama BNN gak berkutik dibuat bandar narkoba itu,” ungkap seorang warga, yang menolak memberikan identitasnya.
Kekhawatiran warga ini semakin besar mengingat aktivitas kriminal yang terus berlangsung di tengah-tengah mereka. Peredaran narkoba di pusat perbelanjaan dan daerah padat penduduk lainnya membuat warga merasa tidak aman dan takut. Mereka khawatir jika tidak ada tindakan tegas, situasi ini akan memburuk dan menyebabkan kekacauan yang lebih besar di kota ini.
Dalam kondisi yang semakin mengkhawatirkan, masyarakat Pematang Siantar berharap agar kasus ini mendapat perhatian dari pihak yang lebih tinggi. Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si., Kepala BNN RI Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si., Kapolda Sumatera Utara Irjen Whisnu Hermawan Februanto, dan Kepala BNN Provinsi Sumatera Utara Brigjen Pol Drs Toga H.Panjaitan diharapkan segera turun tangan untuk mengatasi situasi ini.
Mereka mendesak para petinggi hukum tersebut untuk bertindak tegas dan segera menangkap Umar Harahap, yang selama ini telah meresahkan masyarakat dengan bisnis narkobanya. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin Pematang Siantar akan menjadi kota yang dikuasai oleh kartel narkoba.
“Saat ini kami hanya bisa berharap kepada pihak berwenang di tingkat pusat. Kami sudah lelah dengan kondisi ini. Kami butuh keadilan, kami butuh perlindungan. Jangan sampai kami kehilangan harapan karena aparat di daerah sepertinya tak bisa berbuat apa-apa,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Warga berharap tindakan cepat dan tegas dari aparat penegak hukum di level nasional. Mereka mendesak agar bandar narkoba yang selama ini membuat resah warga segera ditangkap dan diproses sesuai hukum. Selain itu, mereka juga meminta adanya peningkatan pengawasan dan penegakan hukum yang lebih ketat terhadap peredaran narkoba di wilayah tersebut.
“Kami tidak ingin anak-anak kami tumbuh di lingkungan yang dipenuhi narkoba. Kami ingin masa depan yang lebih baik untuk generasi mendatang. Jika bandar besar seperti Umar Harahap terus dibiarkan, bagaimana kami bisa merasa aman?” keluh seorang ibu rumah tangga yang tinggal tak jauh dari kawasan Gang Bangsal.
Desakan untuk menangkap Umar Harahap semakin hari semakin besar. Warga berharap agar berita ini sampai ke telinga pihak-pihak yang berwenang di tingkat pusat, agar mereka turun tangan langsung dan membersihkan Pematang Siantar dari jaringan narkoba.
Tidak hanya masyarakat yang semakin resah, tekanan juga dirasakan oleh aparat kepolisian dan BNN setempat. Meski ada tuduhan bahwa mereka menerima suap, belum ada bukti konkret yang mengarah ke sana. Namun, kegagalan mereka dalam menangani kasus besar seperti ini membuat banyak pihak mempertanyakan kredibilitas mereka.
Tuntutan terhadap penegakan hukum di Pematang Siantar semakin besar. Warga tidak hanya menginginkan Umar Harahap ditangkap, tetapi juga mendesak adanya pembenahan di tubuh kepolisian dan BNN setempat. Penegakan hukum yang tegas diharapkan bisa mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada aparat keamanan.
Kondisi Pematang Siantar saat ini memperlihatkan betapa pentingnya penegakan hukum yang kuat dan tidak pandang bulu. Kasus Umar Harahap adalah bukti bahwa tanpa upaya yang serius dari aparat, situasi bisa dengan cepat menjadi tidak terkendali.
Masyarakat berharap keadilan segera ditegakkan. Mereka tidak ingin melihat kota mereka semakin hancur oleh peredaran narkoba yang terus merajalela. Harapan besar mereka saat ini terletak pada penegak hukum di tingkat nasional. Mungkinkah harapan itu akan segera terwujud? Hanya waktu yang bisa menjawab.
(S. Hadi Purba)













