Oleh : Imran Alwi. Fuad
Di tengah denyut tenang Kota Fakfak, Papua Barat, berdiri sebuah bangunan tua yang anggun namun menyimpan gemuruh sejarah. Gedung itu kini dikenal sebagai Perpustakaan Daerah Fakfak, namun sejarah mencatatnya dengan nama lain: Gedung Pepera, atau lebih jauh ke belakang dalam ingatan kolonial, Social Centrum.
Dibangun pada masa pendudukan Belanda, Social Centrum awalnya difungsikan sebagai pusat aktivitas sosial dan budaya bagi warga Fakfak. Namun siapa sangka, bangunan ini kelak menjadi panggung penting dalam salah satu episode paling menentukan dalam sejarah integrasi Papua dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

19 Juli 1969 menjadi tanggal yang tak pernah terlupa. Di sinilah, di dalam dinding tua yang masih berdiri hingga kini, berlangsung Pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA)—sebuah momen yang akan menentukan nasib Tanah Papua. Di Kabupaten Fakfak, sebanyak 75 orang perwakilan rakyat dikumpulkan, mewakili suara rakyat untuk menentukan masa depan wilayah mereka. Apakah tetap berada dalam pangkuan Ibu Pertiwi, atau memilih jalan lain yang penuh ketidakpastian?
Gedung Pepera menyaksikan semuanya. Dari bisikan-bisikan ragu, tatapan harap, hingga keputusan berani yang mengguncang sejarah. Tak ada mikrofon canggih, tak ada siaran langsung televisi—hanya keyakinan dan sejarah yang mencatat.
Kini, gedung itu menjelma menjadi pusat literasi—Perpustakaan Daerah Fakfak—tempat generasi muda mengeja masa depan lewat lembar demi lembar buku. Tapi dindingnya masih menyimpan gema masa lalu. Setiap jendela dan sudut bangunan itu seolah berbicara: tentang perjuangan, tentang keputusan, tentang harga diri sebuah bangsa.
Gedung Pepera bukan sekadar bangunan. Ia adalah monumen hidup sejarah, saksi bisu ketika bangsa ini diuji, dan akhirnya menang dalam perekat kebangsaan.
# Penulis adalah: Mahasiswa STAI Al-Mahdi Fakfak dan Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Angkatan ke-20 di Kabupaten Fakfak













