Agama  

Kabupaten Fakfak, Jejak Toleransi Sejak Zaman Nenek Moyang: Satu Tungku Tiga Batu Jadi Simbol Kebhinekaan Sejati

Kerukunan beragama antara Islam, Katholik dan Protestan di kampung Sekru Kabupaten Fakfak, Papua Barat saat merayakan Hari Raya Paskah dan Jumat Agung, Jumat (18/4/2025)

PUKANEWS.COM, FAKFAK — Ketika berbicara tentang toleransi antar umat beragama, Kabupaten Fakfak di Provinsi Papua Barat layak menjadi contoh nyata yang sudah teruji oleh waktu.

Di wilayah ini, semangat saling menghargai antar umat beragama telah tumbuh sejak lama, jauh sebelum Indonesia merdeka.

Filosofi hidup masyarakat Fakfak yang dikenal dengan semboyan “Satu Tungku Tiga Batu” menjadi simbol kebersamaan yang kokoh dan harmonis.

Semboyan ini mencerminkan kesatuan dalam keberagaman, dimana tiga batu menopang satu tungku, melambangkan tiga pilar utama yang harus ada untuk kehidupan berjalan seimbang: suku, agama, dan adat. Inilah nilai lokal yang menjadi cerminan sejati dari Bhinneka Tunggal Ika.

Salah satu warga Fakfak yang enggan disebutkan namanya membagikan kisah sejarah ini melalui akun media sosial pribadinya pada Jumat (18/4/2025).

Ia menuturkan bahwa nenek moyang masyarakat Fakfak sudah lebih dahulu menerima agama Islam dari para saudagar Arab. Kemudian, ketika agama Katolik masuk dibawa oleh Pater Lekoq Arman Ville SJ, umat Islam tidak menolak, bahkan justru membantu menyebarkannya kepada masyarakat yang belum memeluk agama.

“Dari dulu nenek moyang kami sudah hidup rukun. Ketika Islam datang, diterima. Ketika Katolik datang, juga disambut. Yang beragama Islam menyerahkan kepada yang belum beragama untuk menerima ajaran baru dengan penuh keikhlasan,” ungkapnya.

Salah satu tempat bersejarah yang menjadi saksi masuknya agama Katolik di Fakfak adalah Kampung Sekru.

Napak tilas ke kampung ini memperlihatkan bagaimana nilai-nilai toleransi dan kebhinekaan telah terpatri kuat di tengah masyarakat Fakfak sejak dulu.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa semangat toleransi dan keberagaman bukanlah hal baru bagi bangsa ini di Fakfak, Papua Barat, nilai-nilai itu sudah tumbuh dan dijaga turun-temurun.

 

Penulis: Imran Alwi. Fuad

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *