Ket foto; Bupati Fakfak Samaun Dahlan (kiri) bersama Komandan Subdenpom XVIII/1-2 Fakfak Kapten Cpm Prasetyo Budhi Setiawan menghadiri peluncuran buku Mozaik Budaya Fakfak dengan didampingi Kepala Dinas Infokomstaper dan Kepala Satpol PP di Fakfak, Selasa (19/05/2026). (FOTO: ISTIMEWA)
Reporter: Imran Alwi. Fuad
PukaNews.com, FAKFAK — Bupati Fakfak memberikan apresiasi kepada Komandan Subdenpom XVIII/1-2 Fakfak, Kapten Cpm Prasetyo Budhi Setiawan, atas peluncuran buku “Mozaik Budaya Fakfak” yang mendokumentasikan sejarah serta kekayaan budaya masyarakat setempat. Buku tersebut dinilai menjadi bentuk pengabdian melalui literasi dan pelestarian budaya daerah.
Peluncuran buku tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban di Rumah Negara Bupati Fakfak, Selasa (19/5/2026), serta dihadiri sejumlah pejabat daerah, termasuk Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika dan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Fakfak.
Bupati Fakfak, Samaun Dahlan yang akrab disapa SD itu menilai karya tersebut menjadi bukti bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan melalui tugas pokok sebagai aparat negara, tetapi juga dapat dilakukan melalui upaya pelestarian nilai-nilai budaya dan penguatan literasi.
“Ini merupakan kontribusi positif yang luar biasa di luar tugas utama sebagai aparat keamanan. Kehadiran buku ini menunjukkan bahwa pengabdian dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui literasi dan pelestarian budaya daerah,” kata Samaun.
Menurutnya, kehadiran buku tersebut memiliki arti penting bagi daerah, terutama dalam mendokumentasikan kekayaan budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Fakfak di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis.
Selain menjalankan tugas sebagai Komandan Subdenpom XVIII/1-2 Fakfak, Kapten Cpm Prasetyo juga diketahui aktif dalam gerakan literasi nasional. Ia saat ini mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum Bhumi Literasi Anak Bangsa, organisasi yang fokus mendorong pengembangan budaya baca masyarakat.
Proses penyusunan buku “Mozaik Budaya Fakfak” sendiri berlangsung cukup panjang. Penulisan dimulai sejak tahun 2024 dan baru rampung pada 2026. Rentang waktu dua tahun itu disebut menjadi bagian dari proses pendalaman materi dan pengumpulan berbagai referensi mengenai sejarah, tradisi, serta kekayaan budaya masyarakat Fakfak.
Melalui buku tersebut, beragam aspek budaya lokal diangkat sebagai upaya memperkuat identitas daerah sekaligus memperkenalkan kekhasan Fakfak kepada masyarakat yang lebih luas.
Sementara itu, Kapten Cpm Prasetyo mengatakan buku tersebut merupakan bentuk pengabdian sekaligus jejak pengalamannya selama bertugas di Tanah Papua.
Ia menilai Fakfak memiliki kekayaan budaya yang perlu didokumentasikan agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
“Budaya Fakfak sangat kaya. Buku ini hadir sebagai media edukasi sekaligus pengingat bagi generasi muda agar tidak melupakan sejarah dan identitas daerahnya. Literasi menjadi salah satu cara efektif untuk menjaga ingatan kolektif itu,” ujarnya.
Peluncuran “Mozaik Budaya Fakfak” juga menjadi gambaran sinergi antara pemerintah daerah, aparat negara, dan pegiat literasi dalam mendorong pelestarian budaya lokal. Kehadiran karya tersebut diharapkan dapat memantik semangat menulis dan melahirkan karya-karya literasi baru dari wilayah timur Indonesia. (*)













