Berita  

Pasar Thumburuni Fakfak Sepi Dua Bulan Usai Diresmikan, Pedagang Lantai III dan IV Memilih Tutup Los di Tengah Sepinya Pembeli

Sejumlah los pedagang tampak tutup di Pasar Rakyat Thumburuni, Fakfak, Papua Barat. Kondisi sepi pembeli masih dirasakan para pedagang, meski sebagian tetap bertahan dengan harapan aktivitas jual beli kembali meningkat, Selasa (20/1/2026).

Reporter: Imran Alwi. Fuad

FAKFAK, PAPUA BARAT, PUKANEWS.COM Dua bulan setelah diresmikan, aktivitas jual beli di Pasar Rakyat Thumburuni, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dilaporkan masih belum berjalan optimal. Minimnya animo pembeli membuat sebagian pedagang, khususnya di lantai III dan IV, memilih menutup los sementara karena sepinya transaksi.

Pantauan beberapa awak media di lokasi pada Selasa (20/1/2026) menunjukkan kondisi pasar di lantai atas relatif lengang. Beberapa los tampak tertutup, sementara pedagang yang bertahan hanya menunggu pembeli dengan harapan dagangan mereka laku terjual.

*LESU ANIMO BELANJA –* Suasana lengang menyelimuti Pasar Rakyat Thumburuni, Fakfak, Papua Barat. Banyak los pedagang memilih tutup akibat minimnya pembeli, sementara sebagian lainnya tetap membuka lapak demi mempertahankan mata pencaharian, Selasa (20/1/2026).

“Sepi sekali. Dari Desember sampai sekarang masih seperti ini,” ujar salah satu pedagang, Randy, saat ditemui wartawan di Pasar Rakyat Thumburuni.

Ia mengungkapkan, sejumlah pedagang terpaksa menghentikan aktivitas jual beli mereka karena tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan. Bahkan, ada pedagang yang tidak lagi mampu menyewa penjaga los harian akibat minimnya pemasukan.

Menurut Randy, kondisi pasar saat ini berbeda dengan Pasar Thumburuni lama. Pada pasar sebelumnya, ragam jenis barang yang dijual lebih variatif sehingga arus pengunjung juga lebih ramai.

“Dulu barangnya lebih beragam, jadi pembeli hilir mudik. Sekarang di lantai III dan IV ini terasa sangat sunyi,” tuturnya.

Dengan retribusi los sebesar Rp500.000 per bulan, para pedagang berharap adanya peningkatan jumlah pengunjung agar mereka dapat menutup biaya sewa dan memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, realitas di lapangan masih jauh dari harapan.

“Kalau di Pasar Kelapa II dulu, meski sepi masih bisa dapat Rp200 ribu sampai Rp1 juta per hari. Di sini kadang cuma dapat Rp30 ribu, itu pun sekadar pelaris,” katanya pasrah.

Dalam sehari berjualan, pendapatan pedagang di Pasar Rakyat Thumburuni terkadang hanya berkisar Rp300 ribu hingga pasar tutup pada sore hari. Kondisi tersebut membuat sebagian pedagang memilih bertahan dengan penuh harap, sementara lainnya menutup los hingga situasi membaik.

Para pedagang berharap adanya perhatian dan evaluasi dari pihak terkait agar Pasar Rakyat Thumburuni dapat kembali ramai dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

“Semoga ke depan ada perubahan dan perhatian. Amin,” ujarnya. (*)

Exit mobile version