banner Pemkab Muba

Berita  

Hotspot Belum Tentu Kebakaran, Satgas OKI Intensifkan Pengecekan Lapangan

PUKANEWS.COM, OKI — Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, memaksimalkan pengecekan langsung ke lapangan (ground check) terhadap titik panas (hotspot) yang terdeteksi satelit. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya kebakaran sekaligus mempercepat penanganan agar api tidak meluas.

Jumlah hotspot di OKI pada Jumat (23/10/2026) tercatat sebanyak 335 titik, menurun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.007 titik. Penurunan ini menjadi bagian dari dinamika pemantauan hotspot yang perlu dicermati bersama verifikasi kondisi di lapangan.

Bupati OKI H. Muchendi Mahzareki menegaskan, setiap titik panas yang terpantau melalui satelit harus diverifikasi oleh petugas untuk memastikan kondisi sebenarnya.

“Setiap titik panas harus dicek di lapangan untuk memastikan apakah benar ada api atau tidak. Jika ditemukan kebakaran, petugas harus segera mengambil tindakan agar api tidak meluas,” ujar Muchendi saat meninjau posko Satgas Karhutla di Desa Kayu Labu, Kecamatan Pedamaran Timur, Jumat (23/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Muchendi juga menyemangati personel Satgas Karhutla dari unsur TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI. Ia mengapresiasi kesiapsiagaan petugas yang terus bekerja di lapangan untuk mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Muchendi, kecepatan memperoleh informasi harus diikuti ketepatan verifikasi dan respons. Dengan demikian, petugas dapat menentukan prioritas penanganan berdasarkan kondisi nyata di lokasi.

Kepala BPBD OKI, Pratama Suryadi, mengatakan pihaknya menggunakan data hotspot yang dirilis Kementerian Kehutanan melalui sistem pemantauan Sipongi sebagai salah satu dasar pengawasan. Namun, keberadaan titik panas tidak otomatis menunjukkan terjadinya kebakaran.

“Kami mengacu pada data hotspot dari Sipongi, tetapi tetap dilakukan *ground check*. Belum tentu hotspot itu ada api,” kata Pratama.

Berdasarkan data pemantauan harian pada 16–23 Oktober, jumlah hotspot di OKI berfluktuasi. Pada 16 Oktober tercatat 871 titik, kemudian meningkat menjadi 1.199 titik pada 17 Oktober. Jumlahnya turun menjadi 473 titik pada 18 Oktober, 386 titik pada 19 Oktober, dan 286 titik pada 20 Oktober. Selanjutnya, hotspot kembali meningkat menjadi 695 titik pada 21 Oktober dan 1.007 titik pada 22 Oktober, sebelum turun menjadi 335 titik pada 23 Oktober.

Pratama menjelaskan, satelit mendeteksi titik panas berdasarkan karakteristik suhu dan tingkat kepercayaan (confidence level) hasil deteksi. Informasi tersebut membantu petugas menentukan prioritas pemantauan, tetapi tetap perlu diperiksa untuk memastikan kondisi di lokasi.

Objek bersuhu tinggi, seperti permukaan seng atau aspal yang terpapar matahari, juga berpotensi terdeteksi sebagai titik panas. Karena itu, hasil pemantauan satelit tidak dapat langsung disimpulkan sebagai kejadian karhutla tanpa verifikasi lebih lanjut.

“Ketika satelit mendeteksi titik panas, personel perlu turun ke lokasi sesuai koordinat untuk memastikan apakah ada api atau tidak,” ujarnya.

Selain mengandalkan pemantauan satelit, BPBD OKI juga membuka jalur pelaporan dari masyarakat. Warga yang melihat indikasi kebakaran diimbau segera menyampaikan laporan disertai foto atau video serta titik koordinat lokasi agar petugas dapat melakukan pengecekan.

“Kalau masyarakat melapor, kami minta foto, video, dan titik koordinatnya. Setelah itu, tim langsung bergerak ke lokasi tanpa harus melalui prosedur berjenjang,” kata Pratama.

Ia mengimbau masyarakat tetap melaporkan kebakaran meskipun lokasi tersebut belum terpantau satelit. Laporan yang akurat dan disampaikan sejak dini akan membantu petugas menjangkau lokasi lebih cepat.

Artini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *