banner ucapan HUT RI Suryanto PKB

banner ucapan HUT RI Suryanto PKB

banner ucapan HUT RI Polsek Tulung Selapan

banner ucapan HUT RI Polsek Air Sugihan

banner Sekwan OI

banner Dandim OKI OI

Dari Kelas Memasak hingga Permainan Tradisional, Deisya Kenalkan Budaya Indonesia di Australia

Ket foto; Deisya AlHamid

Oleh: Imran Alwi. Fuad

Bahasa bukan sekadar alat untuk berbicara. Di balik setiap kata, tersimpan identitas, sejarah, kebiasaan, bahkan cara sebuah bangsa memandang dunia. Karena itu, ketika Bahasa Indonesia dipelajari oleh pelajar di Australia, sesungguhnya yang sedang diperkenalkan bukan hanya kosakata dan tata bahasa, melainkan juga wajah Indonesia dengan segala kekayaan budaya dan tradisinya.

Kisah Deisya AlHamid, penerima beasiswa Australia Awards sekaligus Duta Belajar Bahasa Indonesia (ILLA), menjadi contoh menarik bagaimana pendidikan dapat melampaui batas ruang kelas. Di Canberra Grammar School, Deisya tidak hanya mengajarkan Bahasa Indonesia melalui buku dan teori. Ia menghadirkan Indonesia lewat kelas memasak, permainan tradisional, aktivitas pembelajaran, hingga diskusi mengenai budaya.

Pendekatan semacam ini patut mendapat perhatian. Sebab, mengenalkan Indonesia kepada dunia tidak selalu harus dilakukan melalui panggung-panggung besar atau forum diplomatik. Terkadang, diplomasi yang paling berkesan justru lahir dari ruang kelas, dari percakapan sederhana, dari permainan tradisional, atau dari sepiring makanan khas Indonesia yang dinikmati bersama.

Di tangan seorang pengajar sekaligus duta budaya, Bahasa Indonesia berubah menjadi pintu masuk untuk mengenal Indonesia secara lebih dekat. Pelajar Australia bukan hanya belajar bagaimana mengucapkan sebuah kalimat dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga mulai memahami mengapa masyarakat Indonesia memiliki begitu banyak tradisi, makanan, permainan, dan nilai kebersamaan.

Inilah wajah lain dari diplomasi kebudayaan yang sering kali luput dari perhatian.

Ketika seorang anak Australia berani mengucapkan Bahasa Indonesia, memainkan permainan tradisional Indonesia, atau mengenal makanan khas Nusantara, sebenarnya sedang tumbuh sebuah hubungan kecil yang suatu saat dapat berkembang menjadi persahabatan lintas bangsa.

Lebih jauh, pengalaman Deisya memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis dalam membangun hubungan antarnegara. Mereka bukan hanya penerima pendidikan, tetapi juga dapat menjadi duta yang membawa cerita tentang negaranya kepada dunia.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, kemampuan memahami budaya lain menjadi semakin penting. Perbedaan bahasa dan budaya tidak seharusnya menjadi tembok pemisah. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling belajar dan menghargai.

Karena itu, pengajaran Bahasa Indonesia di luar negeri seharusnya tidak dipandang sebagai program pendidikan semata. Ia merupakan investasi jangka panjang dalam membangun hubungan antarmasyarakat. Anak-anak yang hari ini belajar Bahasa Indonesia di Australia bisa saja menjadi generasi yang kelak memiliki kedekatan lebih kuat dengan Indonesia—baik dalam bidang pendidikan, bisnis, kebudayaan, maupun hubungan sosial.

Apa yang dilakukan Deisya AlHamid memberikan pesan sederhana tetapi penting: Indonesia tidak hanya perlu dikenal karena kekayaan alamnya, tetapi juga karena bahasa, budaya, keramahan, dan manusianya.

Jika diplomasi resmi dibangun melalui meja perundingan, diplomasi budaya dapat tumbuh melalui ruang kelas.

Dan dari ruang kelas itulah, persahabatan antarbangsa bisa dimulai.

Pada akhirnya, bahasa adalah jembatan. Ketika jembatan itu dibangun sejak usia muda, yang terhubung bukan hanya kata dan kalimat, tetapi juga hati, pengalaman, serta cara pandang antarmanusia.

Deisya mungkin hanya berdiri di depan sebuah kelas di Canberra. Namun, apa yang ia lakukan membawa pesan yang jauh lebih besar: Bahasa Indonesia mampu menjadi salah satu jalan bagi dunia untuk mengenal Indonesia, dan bagi Indonesia untuk semakin dekat dengan dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *